INFOLHOKSEUMAWE.com — Kelompok 67 Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Malikussaleh (Unimal) memperkenalkan inovasi metode “Tani Pori” sebagai solusi efektif pengelolaan limbah rumah tangga. Program ini dilaksanakan secara serentak di lima dusun di Desa Kumbang Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, pada Selasa (27/1/2026).
Metode Tani Pori, atau yang lebih dikenal sebagai lubang resapan biopori, diterapkan di Dusun Meurandeh, Dusun Cot Di Paya, Dusun Kuta Pawoh, Dusun Chik Di Alue, dan Dusun Lampoh Bakong. Inovasi ini bertujuan untuk mengonversi sampah organik menjadi kompos sekaligus meningkatkan daya serap air tanah.
Ketua Kelompok KKN 67, Al Syauqan, menjelaskan bahwa pemilihan program ini didasari oleh permasalahan lingkungan yang sering terjadi di Desa Kumbang Punteut, yaitu genangan air pasca-hujan dan pengelolaan sampah organik rumah tangga yang belum optimal.
“Kami ingin memberikan edukasi bahwa sampah organik bukan sekadar limbah, melainkan aset. Melalui Tani Pori, air hujan meresap lebih cepat ke dalam tanah, sementara sampah daun dan sayuran di dalamnya akan terdekomposisi secara alami menjadi pupuk berkualitas,” ungkapnya.
Dalam implementasinya, mahasiswa bersama warga melakukan gotong royong membuat lubang resapan vertikal dengan kedalaman sekitar 53 sentimeter menggunakan alat bor tanah.
Berikut adalah langkah-langkah utama yang diedukasikan kepada warga:
- Pembuatan Lubang: Menggali tanah secara vertikal dengan diameter tertentu.
- Pengisian Limbah: Memasukkan sampah organik seperti sisa sayuran, kulit buah, dan dedaunan kering.
- Pemeliharaan: Membiarkan proses dekomposisi terjadi untuk nantinya dipanen sebagai pupuk organik.
Respons Positif Masyarakat
Kehadiran program ini disambut hangat oleh warga setempat. Salah satu warga Dusun Lampoh Bakong menyatakan bahwa metode ini mengubah cara pandang mereka terhadap limbah dapur.
“Dengan adanya Tani Pori ini, kami tidak perlu lagi membuang limbah rumah tangga sembarangan. Sampah organik kini bisa langsung masuk lubang dan bermanfaat menjadi pupuk untuk tanaman di pekarangan,” ujarnya.
Program pengabdian ini diharapkan tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Mengingat biayanya yang murah dan metodenya yang praktis, mahasiswa berharap Desa Kumbang Punteut dapat menjadi model desa mandiri dalam pengelolaan sampah dan konservasi air tanah secara berkelanjutan. []











