INFOLHOKSEUMAWE.com — Di tengah dinamika pemulihan sosial dan pembangunan kemanusiaan di Provinsi Aceh, sosok Yusrizal Puteh hadir sebagai figur sentral di balik keberlanjutan senyum ribuan anak yatim dan kaum dhuafa.
Mengemban amanah sebagai Koordinator Wilayah (Area Coordinator) Yayasan Islamic Relief Indonesia untuk Wilayah Aceh sekaligus Koordinator Program Orphan Sponsorship, Yusrizal mendedikasikan pengabdiannya untuk merajut kembali harapan masyarakat yang membutuhkan.
Masyarakat kerap menyapa dan mengenalnya sebagai “ayah” bagi anak-anak yatim di Serambi Mekkah. Panggilan ini bukan tanpa alasan. Melalui kepemimpinannya, Program Orphan Sponsorship Islamic Relief Indonesia telah berhasil menjangkau lebih dari 3.000 anak yatim yang tersebar di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Utara, hingga Lhokseumawe.
Hingga saat ini, lebih dari 1.300 anak di antaranya tercatat masih aktif menerima bantuan holistik yang mencakup pemenuhan akses pendidikan, layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak, hingga pendampingan psikososial.
Tak hanya di Aceh, kiprah Yusrizal dalam pendampingan anak yatim juga menjangkau tiga provinsi lain, yakni Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Barat (khususnya Kabupaten Cianjur).
Sebagai Koordinator Program Orphan Sponsorship Islamic Relief Indonesia, Yusrizal baru saja menggelar kegiatan Pertemuan Koordinasi Tahunan Orphan Sponsorship Program (OSP) di Taman Jati, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Minggu (26/7/2026).
Dalam momen penuh makna tersebut, Yusrizal tampak berinteraksi hangat dengan para anak yatim tanpa sekat, layaknya seorang ayah. Ia pun larut dalam kegiatan yang mempertemukan ratusan anak yatim beserta ibu atau pengasuh mereka untuk saling menguatkan, belajar, dan menikmati kebersamaan.
Bagi putra asli Aceh ini, mendampingi anak yatim dan masyarakat rentan bukan sekadar mengelola proyek fisik atau membagikan bantuan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menanamkan optimisme masa depan.
Dedikasi Yusrizal tidak berhenti pada pengayoman anak yatim. Di bawah koordinasinya, program pembangunan Rumah Layak Huni dan Tahan Gempa (RLHTG) terus digencarkan. Hingga kini, lebih dari 100 unit rumah berkonstruksi tahan bencana telah berdiri kokoh di Aceh Besar, Aceh Utara, hingga Lhokseumawe.
Mengingat kondisi geografis Aceh yang berada di jalur rawan bencana, aspek keamanan bangunan menjadi prioritas utama demi memberikan rasa aman jangka panjang bagi para penerima manfaat.
Di samping itu, Yusrizal aktif merespons berbagai persoalan sosial yang mendesak. Melalui proyek EMPOWER, ia mengawal program pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keprihatinannya didasari oleh tingginya angka kasus kekerasan di Aceh yang menembus 1.098 kasus pada tahun 2023.
Atas dasar tersebut, ia secara konsisten mendorong lahirnya kebijakan yang holistik dan terintegrasi dari tingkat hulu hingga hilir. Ketika bencana alam seperti banjir dan tanah longsor melanda, ia juga berada di barisan terdepan untuk menyalurkan paket bantuan tanggap darurat, baik pangan maupun nonpangan.
Keberhasilan berbagai program strategis ini tidak lepas dari pendekatan kepemimpinan Yusrizal yang mengedepankan sinergi lintas sektor. Ia meyakini bahwa kerja-kerja kemanusiaan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan memerlukan jaringan kolaborasi yang solid bersama Baitul Mal, pemerintah desa, Dinas Sosial, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), hingga aparat kepolisian.
“Silaturahmi menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama yang berkelanjutan. Islamic Relief Indonesia meyakini bahwa keberhasilan program kemanusiaan tidak terlepas dari sinergi yang kuat antara pemerintah desa, Baitul Mal, dan seluruh mitra,” tuturnya saat ditemui di Lhokseumawe.
Melalui konsistensi dan pendekatan humanis ini, Yusrizal terus mengajak para muzaki dan masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki untuk menyalurkan zakat serta kepedulian mereka. Menurutnya, uluran tangan sekecil apa pun memiliki daya ubah yang sangat besar bagi kehidupan kaum dhuafa yang masih berjuang di bawah garis kemiskinan. []





