INFOLHOKSEUMAWE.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Malikussaleh (Unimal) Kelompok 67 melakukan kunjungan observasi ke pabrik pengolahan sagu di Desa Kumbang Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, pada Kamis (22/1/2026).
Pabrik yang berdiri sejak tahun 1990 ini merupakan pilar ekonomi lokal yang secara konsisten memberdayakan masyarakat sekitar. Dikelola oleh Bukhari, pabrik ini menjadi sumber penghidupan utama bagi warga desa. Dalam operasional harian, pabrik ini mempekerjakan enam orang yang dibagi ke dalam dua sif kerja.
Prioritas perekrutan diberikan kepada pemuda desa setempat guna menekan angka pengangguran. “Tenaga kerja kami utamakan dari masyarakat kampung sekitar,” ujar Bukhari saat menerima kunjungan mahasiswa KKN Unimal.
Bahan baku berupa batang rumbia diperoleh dari kawasan rawa-rawa lintas desa dan kabupaten melalui perantara dengan harga kisaran Rp10.000 per meter. Setelah diproses menjadi pati sagu, produk tersebut didistribusikan ke pasar luar daerah, mencakup kawasan Rampah, Tanjung Morawa, hingga Tebing Tinggi.
Salah satu poin unggulan dari pabrik ini adalah sistem pengolahan limbah yang efisien. Ampas sisa produksi sagu tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan oleh warga sebagai pakan ternak, khususnya lembu. Mekanisme ini memastikan operasional pabrik tetap higienis dan tidak mencemari lingkungan pemukiman warga.
Meski menjadi penggerak ekonomi, operasional pabrik sangat bergantung pada kondisi alam dan fluktuasi harga pasar. Produksi biasanya terhenti hanya jika terjadi banjir atau saat bahan baku sulit didapatkan. Selain itu, harga jual sagu kerap berubah mengikuti volume produksi tepung dari Medan dan kebijakan pemerintah.
Hingga saat ini, pabrik tersebut beroperasi secara mandiri tanpa bantuan dari pihak pemerintah. Bapak Bukhari menyampaikan harapannya agar ada atensi lebih dari instansi terkait, terutama dalam hal pelestarian dan pembudidayaan pohon rumbia.
“Bapak Bukhari berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih, khususnya dalam pembudidayaan pohon rumbia, agar ketersediaan bahan baku sagu dapat terjaga secara berkelanjutan,” ungkap Al Syauqan, Ketua Kelompok 67.











