Aceh Utara | InfoLhokseumawe.com — Komitmen dalam menggali akar sejarah dan warisan keislaman lokal ditunjukkan oleh mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 14 UIN Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe. Mereka berfokus pada dokumentasi sejarah lisan Desa Blang Raleue, Kecamatan Simpang Keuramat, Kabupaten Aceh Utara, dengan fokus utama pada situs Makam Keramat Teungku Batee Puteh.
Pada Jumat, 21 November 2025, mahasiswa KPM UIN SUNA Kelompok 14 mengadakan pertemuan khusus dan dialog mendalam dengan Teungku Imum Gampong Blang Raleue, Tgk. Abdullah. Ia merupakan tokoh kunci yang memegang riwayat lisan dan silsilah desa.
Tujuan utama dari pertemuan ini adalah untuk mendokumentasikan secara autentik silsilah penamaan desa, riwayat daerah, serta warisan keislaman yang membentuk identitas Desa Blang Raleue. Kegiatan ini menjadi bagian integral dari program KPM untuk mendorong kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya pelestarian sejarah lokal.
Menguak Kisah Teungku Batee Puteh
Dalam sesi diskusi yang berlangsung hangat dalam suasana kekeluargaan, Tgk. Abdullah mengupas tuntas sejarah Makam Keramat Teungku Batee Puteh. Situs ini dianggap sebagai salah satu titik bersejarah paling penting di Desa Blang Raleue, yang menyimpan jejak syiar Islam dan tokoh berpengaruh di masa lalu.
Selain menggali riwayat makam keramat tersebut, mahasiswa juga mendapatkan penjelasan komprehensif mengenai asal-usul penamaan desa, alasan di balik penamaan wilayah menjadi “Blang Raleue”.
Kemudian tentang asal-usul penamaan kecamatan, sejarah dan latar belakang mengapa kecamatan tersebut dikenal sebagai “Simpang Keuramat”, sebuah nama yang secara eksplisit merujuk pada adanya situs keramat di wilayah tersebut.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KPM berharap dapat mengumpulkan data yang valid dan autentik. Data tersebut direncanakan akan diolah menjadi bahan edukasi dan dokumentasi yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman generasi muda Blang Raleue.
“Kami berharap dokumentasi ini tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga mampu meningkatkan kesadaran kolektif, khususnya bagi generasi muda di Blang Raleue, tentang betapa pentingnya menjaga dan melestarikan narasi sejarah lisan yang menjadi identitas unik kampung mereka,” ujar salah satu mahasiswa KPM Kelompok 14.
Inisiatif ini menyoroti peran penting perguruan tinggi dalam membantu masyarakat memahami dan melestarikan warisan budaya serta sejarah keagamaan yang menjadi fondasi kuat bagi identitas lokal. []











